Menjelajah Fenomena Keindahan Goa Maharani

Crazy Family Club kae lho…

PENUTUP 12/07/2009

BAB III

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Indonesia memilki banyak pesona wisata yang menarik mulai dari obyek wisata alam, wisata budaya maupun keindahan wisata buatan manusia. Salah satu objek wisata yang menjadi kebanggaan Jawa Timur adalah Goa Maharani. Gua Maharani adalah sebuah gua yang terletak di kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan Jawa Timur. Merupakan bagian dari pegunungan kapur utara yang memanjang dari Pati hingga pantai utara Lamongan, Jawa Timur. Gua yang bertempat di Jalan Raya Daen-deles (Pantura) itu kini mulai terkenal sampai ke luar Lamongan, bahkan hingga ke luar Provinsi Jawa Timur.

Goa ini adalah salah satu Goa di Indonesia yang stalaktit dan stalakmitnya masih aktif atau masih hidup dengan pertumbuhan ± 1cm per sepuluh tahun, dengan panjang rute 350 meter. Sejarah ditemukannya Goa ini, konon pada malam sebelum goa itu ditemukan, istri Sunyoto bermimpi melihat bunga-bunga yang bercahaya sangat indah dan dijaga oleh dua ekor naga raksasa. Mimpi tersebut dianggap sebagai wangsit (petunjuk) sebelum para penggali tambang menemukan goa. Berdasarkan mimpi tersebut, Sunyoto mengusulkan kepada Bupati Lamongan (ketika itu Mohamad Faried) agar goa yang ditemukannya diberi nama Goa Istana Maharani. Pasalnya, keindahan yang tampak dari stalaktit dan stalagmit (gugusan batuan kapur pada langit-langit dan lantai goa) dianggap menyerupai keindahan istana.

Keunikan telah terjadi ketika memberi nama gua ini, banyak orang saling mengusulkan nama untuk gua baru ini baik dari pejabat maupun dari masyarakat. Oleh bupati daerah tingkat II lamongan H.R. Mohammad Faried, SH ditetapkan dengan nama MAHARANI. Kemudia gua ini sebagai taman wisata baru oleh H.R. Mohammad Faried ditambahkan dengan GUA ISTANA MAHARANI, atas usulan istri sunyoto nama maharani ditetapkan sampai saat ini.

Pada saat itu H.R. Mohammad Faried S,H menanyakan kepada istrinya. Sebaiknya apa nama gua yang ditemukan segen tersebut yang dibawah pengawasan suaminya. Maka NY. Sunyoto mengusulkan sebuah nama GUA MAHARANI karena mempunyai alasan yang kuat yaitu: Sehari sebelum tanggal 6 Agustus 1992 Ny. Sunyoto bahwa direlung batu di depan gua baru tempat kerja suaminya ini terlihat seorang wanita cantik memakai mahkota berwarna-warni. Mahkota cantik ini bercahaya kemilau berlapis emas, bertatahkan intan, berlian, bermotif hiasan bunga mawar dan dahlia. Ketika Ny. Sunyoto bangun dalam keheningan malam merasa ada bisikan bahwa dia baru saja melihat mahkota indah milik seorang ratu yang disebut maharani. Sang ratu bermahkota indah ini tampak dalam relung di depan pintu gua akhirnya menjadi kenyataan.

Pada dasarnya Goa adalah suatu bentukan alam yang umumnya terjadi akibat adanya suatu proses alam yang melubangi batuan. Dari seluruh proses kejadian terbentuknya gua, yang paling luas dan intensif adalah gua-gua yang terbentuk pada formasi batu gamping Hampir semua goa yang ada dibentuk dari karst (dari bahasa Slavia Krs/Kras yang berarti batu-batuan). Istilah karst dipakai untuk suatu kawasan batu gamping (limestone) yang telah mengalami pelarutan sehingga menimbulkan relief dan pola pengaliran yang khas. Hal ini dicirikan dengan adanya proses geokimia dan kehadiran atmosfer, biosfer, dan hidrosfer sekaligus.

Sejarah geologi karst dimulai pada zaman karbon (sebutan untuk sebuah masa di 354-290 juta tahun lalu) akhir, hingga Perm (290-248 juta tahun lalu) awal yang menimbulkan batuan tertua. Umumnya pada akhir masa Perm awal, terjadi aktivitas tektonik berupa pengangkatan dan pelipatan satuan sabak serta timbulnya sesar mendatar. Pada zaman Trias (248-206 juta tahun lalu) awal, terjadi proses susut laut yang membentuk morfologi batu gamping. Ini akan diikuti dengan intrusi ke permukaan yang menerobos batu gamping, hingga mengakibatkan batu gamping menjadi marmer. Akibat proses gaya-gaya geologi yang berpengaruh, akan terbentuk struktur rekahan yang disebut diaklas, yakni jalur resapan air permukaan dan membentuk morfologi karst. Hal ini akan terus terjadi, entah sampai kapan berakhirnya. Mengapa pembentukan gua sangat intensif di kawasan kars yang batuannya didominasi batu gamping / batu kapur / limestone? Hal ini sangat terkait dengan sifat batu gamping yang unsur utamanya adalah karbonat CaCO3 yang sangat reaktif terhadap larutan asam, khususnya larutan senyawa asam yang mengandung CO2. Walaupun secara kimiawi prosesnya sangat rumit dan kompleks, tetapi proses pelarutan batu gamping secara sederhana mengikuti persamaan reaksi berikut:

CaCO3 + H2O + CO2 Ca+ 2HCO3
Proses dengan panah bolak-balik tersebut menunjukan bahwa air yang mengandung senyawa asam CO2 akan melarutkan karbonat menjadi kalsium dan bikarbonat. Reaksi balik dari kanan ke kiri akan kembali menghasilkan karbonat. Maka selain adanya proses pelarutan yang membawa partikel karbonat sehingga terjadi pelubangan dan pengguaan pada batu gamping, di tempat lain terjadi proses pengendapan karbonat berikutnya. Ini menerangkan proses selain terbentuknya gua itu sendiri, juga terbentuknya hiasan-hiasan gua (stalactite, stalagmite, flowstone, guardam, dll) yang merupakan hasil endapan karbonat dari pelarutan karbonat di tempat lain.

Gua Maharani ini letaknya sangat strategis dan menarik karena terletak di dekat pantai kurang lebih 500 m dan berada di tepi jalan Gresik-Tuban tepatnya di kecamatan Paciran Lamongan. Salah satu keajaiban alam berupa gua istana maharani yang menyimpan keindahan alam lebih spesifik dan unik diatas rata-rata gua wisata yang lain. Bahkan menurut prof Dr. KRT.Khoo ahli perguaan internasional dari yayasan speleologi Indonesia di Bogor menilai bahwa stalaktit dan stalakmit di gua istana Maharani masih hidup karenanya keindahan gua ini bisa disejajarkan dengan gua Altamira di Spanyol. Gua Mamonth dan Carlsbad di Amerika Serikat serta Goa Coranche di Perancis.. Gua yang menyimpan sejuta keindahan ini berada dikedalaman 25 m dari permukaan tanah dengan rongga gua seluas 2500 m2.

Stalaktit dan stalagmit yang tumbuh di dalam goa dapat memancarkan cahaya warna warni bila terkena cahaya. Menyadari kelebihan tersebut Pemerintah Daerah Lamongan mengelolanya sebagai obyek wisata primadona. Fasilitas yang dibangun dibagi dalam tiga zone yaitu zone umum, zone peralihan dan zone inti, lokasi goa ini 100 m ketimur dari Tanjung Kodok.

Peresmian objek wisata Maharani Zoo & Goa bisa dibuka diharapkan mampu menambah pendapatan bagi daerah itu menawarkan kemudahan untuk bisa menikmatinya. Lokasi yang awalnya hanya bisa berupa goa ini, kini pengujung bisa melihat berbagai keindahan lokasi hingga bisa bermain dan berteman dengan binantang yang banyak didatangkan dari Negara Afrika Selatan. Dengan menempati lahan seluas 2,7 hektare, kawasan yang mengusung konsep entertainment dan education tersebut terutama akan siap menyambut pengunjung dengan ratusan koleksi hewan eksotisnya. Termasuk hewan albino seperti ular putih, burung merak putih dan landak putih yang ditempatkan di Puri Albino. Goa Maharani tetap dipertahankan kekesotisannya. Bahkan, untuk menambah daya tariknya, seusai keluar dari mulut goa, pengunjung Mazoola kini bisa menikmati wahana Geological. Wahana ini berisi koleksi bebatuan eksotis dari berbagai penjuru dunia. Mazoola ini adalah ekspansi ketiga setelah WBL dan Tanjung Kodok Beach & Resort.

Berdasarkan data Dinas Pariwisata setempat (2005) Gua Maharani dikunjungi 188.667orang dengan pemasukan sebesar Rp. 431 juta. Selama 2007, ada sekitar 1,8 juta wisatawan yang berkunjung ke berbagai obyek wisata Lamongan termasuk Wisata Bahari Lamongan (WBL), Goa Maharani, Kompleks Sunan Drajat dan Waduk Gondang. Potensi pariwisata di Kabupaten Lamongan cukup berkembang, tidak saja menjadi sumber pendapatan daerah (PAD) tetapi yang lebih penting adalah sebagai peningkatan pengetahuan/pendidikan bagi pengunjung obyek wisata kususnya terkait dengan sektor pariwisata.

3.2 SARAN

Dari kesimpulan-kesimpulan di atas, maka penulis menyarankan agar pemerintah tetap berupaya mengembangkan sektor kepariwisataan dimana sektor tersebut dalam beberapa terakhir ini telah memberikan kontribusi yang menguntungkan kedua setelah sektor migas. Pemerintah harus tetap mengelola dan mengembangkan sektor tersebut dengan meningkatkan berbagai atraksi dan fasilitas (utama maupun penunjang) demi ketercapaian target pengunjung.

DAFTAR PUSTAKA

Djuri, M.,dkk., 1996 ”Peta Geologi Lembar Tuban, Jawa” Pusat Pengembangan dan Penelitian geologi

Samodra, H., 2001, ”Nilai Strategis Kawasan Karts di Indonesia, Pengelolaan dan Perlindungannya”, Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, Badan Penelitiandan Pengembangan Energi dan Sumberdaya Mineral, Bandung, Indonesia

http://www.maharanizoo.com/?halaman=Goa_Maharani

http://www.wongbulu.co.cc/

http://ceritakuunik.blogspot.com/2009/02/gua-maharani.html

http://iqbalmanlamongan.blogspot.com/2009/08/15-sektor-pembangunan-lamongan.html

http://www.kompas.com/lipsus/daendels_read/2008/08/26/01512926/metamorfosis.lamongan

http://subterra.web.id/speleologi-karstologi/proses-proses-yang-mempengaruhi-terjadinya-gua.html

http://toejoeh124.blogspot.com/2009/03/teori-klasik-pembentukan-goa.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Teori_klasik_perkembangan_perguaan.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s